Ungkapan Baru Saat Berpamitan
Saya mendapat pelajaran sekaligus pola pikir baru yang mulai bisa dibiasakan kepada kalian semua. Saat mau pulang, Bunda Aya mengucapkan salam perpisahan. "Dadah, I miss you cantik aku, Kabar baik ya," tutur Bunda.
Kalimat itu mungkin biasa saja, bagi kita yang sudah biasa mengucapkan hal tersebut kepada orang lain. Tapi ada satu kalimat di akhir ucapannya. ".. kabar baik ya". Ini diucapkan dengan maksud bila sampai rumah/tujuan nanti kau akan baik-baik saja. Sebenarnya apa bedanya dengan kata 'hati-hati' yang sering kita terima? Bukankah kita lebih sering mengucap bahkan menerima kata 'hati-hati' saat mau pergi? Kalau kabar baik, cenderung justru saat seseorang menanyakan kabar, barulah kita mengucap "kabar baik".
Singkat cerita Bunda bilang, "dulu Mamaku ngajarinnya begitu, katanya kalau kata 'hati-hati' itu lebih kepada menjaga diri. Seolah-olah mau dihadapkan sama masalah gitu, jadi harus 'hati-hati'. Mengucapkan kata 'hati-hati' kayak mau dapet marabahaya aja, iya engga?", tanyanya kemudian.
Saya berpikir sebentar, dalam hati berbisik, ada benarnya juga omongan Bunda. Konotasi kata 'hati-hati' dalam artian menjaga diri, memang lebih rendah dibandingkan jika kalian memakai kata 'kabar baik ya'.
Kenyataannya hingga saat ini, kita tak pernah bisa terlepas dari kata 'hati-hati' yang biasa dilontarkan. Seolah-olah ucapan itu reflek dalam otak dan bibir kita, ketika orang berpamitan.
Sumber : CNN Indonesia
Konotasi 'kabar baik ya' menyampaikan pesan kepada orang dengan gaya bahasa lebih enak didengar. Seperti menitipkan harapan dan doa bahwa orang yang akan berpergian itu selamat sampai tujuannya. Yuk, coba biasakan mengucapkan kata, 'kabar baik ya' kepada setiap orang yang ingin berpamitan. Beralih dari yang tidak biasa menjadi biasa. Menjadi berbeda kadang sulit diterima orang lain. Tapi disitulah kunci pertumbuhan karakter-karakter kita yang baru. Selamat membiasakan diri!
Kalimat itu mungkin biasa saja, bagi kita yang sudah biasa mengucapkan hal tersebut kepada orang lain. Tapi ada satu kalimat di akhir ucapannya. ".. kabar baik ya". Ini diucapkan dengan maksud bila sampai rumah/tujuan nanti kau akan baik-baik saja. Sebenarnya apa bedanya dengan kata 'hati-hati' yang sering kita terima? Bukankah kita lebih sering mengucap bahkan menerima kata 'hati-hati' saat mau pergi? Kalau kabar baik, cenderung justru saat seseorang menanyakan kabar, barulah kita mengucap "kabar baik".
Singkat cerita Bunda bilang, "dulu Mamaku ngajarinnya begitu, katanya kalau kata 'hati-hati' itu lebih kepada menjaga diri. Seolah-olah mau dihadapkan sama masalah gitu, jadi harus 'hati-hati'. Mengucapkan kata 'hati-hati' kayak mau dapet marabahaya aja, iya engga?", tanyanya kemudian.
Saya berpikir sebentar, dalam hati berbisik, ada benarnya juga omongan Bunda. Konotasi kata 'hati-hati' dalam artian menjaga diri, memang lebih rendah dibandingkan jika kalian memakai kata 'kabar baik ya'.
Kenyataannya hingga saat ini, kita tak pernah bisa terlepas dari kata 'hati-hati' yang biasa dilontarkan. Seolah-olah ucapan itu reflek dalam otak dan bibir kita, ketika orang berpamitan.
Konotasi 'kabar baik ya' menyampaikan pesan kepada orang dengan gaya bahasa lebih enak didengar. Seperti menitipkan harapan dan doa bahwa orang yang akan berpergian itu selamat sampai tujuannya. Yuk, coba biasakan mengucapkan kata, 'kabar baik ya' kepada setiap orang yang ingin berpamitan. Beralih dari yang tidak biasa menjadi biasa. Menjadi berbeda kadang sulit diterima orang lain. Tapi disitulah kunci pertumbuhan karakter-karakter kita yang baru. Selamat membiasakan diri!


Komentar
Posting Komentar