Magang : Penulisan Format Berita Radio
Yak, ketemu lagi sama pemilik akun yang tak kunjung selesai menceritakan segelintir kisah nan absurd.
Di hari kedua, karena orang-orang liputan pada rame, ramah, sekaligus perhatian dan mengerti sekali akan kesibukan mahasiswa yang ga ada artinya ini. Mereka bilang, "datangnya ga usah pagi-pagi, jam 9-10 juga gapapa. Asal dahulukan perihal kuliah," Bu Susi said. Hehe
So, you know what apa yang kita lakukan pada hari ke dua ini? Yaa, bener banget, kita dateng telat hehe.
Pukul 10.00 WIB (Waktu Indonesia Bagiangue) pun akhirnya sampai di lantai 6. Padahal sebelumnya pada hari senin, kita datang lebih awal, pukul 09.00. Sesampainya di ruang redaksi, saya bertemu Pak Asmari, ia menanyakan sejauh mana tugas kita--bagian lipred belajar tentang berita radio. Saat itu hanya saya sendiri, teman-teman yang lain sudah duduk santai di studio. The power of kepepet adalah saat saya ingin pergi liputan pukul 10.30, pas banget Pak Asmari ngasih beberapa pelajaran penting ke gue. Setidaknya, ada empat point yang akan saya share ke kalian mengenai penulisan berita radio.
1. Menuliskan akronim, kalau biasanya pada media cetak maupun online untuk akronim (singkatan), yang tidak kita ketahui artinya bisa dijabarkan terlebih dahulu kepanjangannya lalu di berikan tanda kurung (...). Misal :
Pada media cetak dan online :
- ditulis, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Pada media radio :
- ditulis, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB
Karena radio diperuntukkan kepada pendengar, maka penulisan benar-benar harus ditulis agar si reporter tidak terkecoh saat membacakan berita. Tidak bisa ditulis seperti berita media cetak dan online. Hal yang sama juga dilakukan oleh media televisi, saya rasa mereka juga harus dituliskan seperti pada media radio. Nanti, bukannya bilang 'atau' malah 'bukakurung-tutupkurung'. Yang seperti ini rumit, pendengar akan merasa risih dan bisa-bisa ganti channel. Huuu, jangan sampe terjadi ya sist! 😉
2. Menuliskan angka, jika pada umumnya di media cetak dan online harus secara rinci menerangkan sesuatu. Maka, pada berita radio tidak perlu panjang dan bertele-tele untuk menuliskan angka. Bisa-bisa pendengar Anda bosan gan.
Contohnya :
Pada media cetak dan online ditulis :
- Rp. 74.650 bla bla
- Rp. 2.567.900 bla bla
- nilai 7, 56
Pada media radio ditulis :
- 74 ribu rupiah lebih. Cukup seperti itu,
- 2 juta lima ratus rupiah lebih, atau
- nilai 7 koma 5 atau 7 koma 5 lebih
3. Cukup sekali, tidak boleh ada kata yang diulang.
Cara ini dilakukan lagi-lagi agar si pendengar tidak bosan. Karena berita radio hanya selintas. Misal :
- Kalau ada penulisan nama brand, seperti AQUA di awal kalimat, maka di kalimat selanjutnya cukup mengganti nama benda dengan ' air mineral' , tidak perlu ditulis nama AQUA lagi.
4. Last but not least dari yang diajarkan Pak Asmari, penulisan gelar seseorang.
Penulisan nama tentunya ga boleh salah dong guys, tapi bagaimana dengan penulisan gelar seseorang, apalagi kalo narsumnya gila gelar hehe. Contoh :
- penulisan media cetak dan online :
Ditulis semuanya, secara rinci dari yang kecil hingga gelar paling tinggi.
Drs. Hartono, M.Si, M.Hum, Ph.D
Prof. Dr. Ir. Sari Kusma M. Kom
- berita radio hanya ditulis gelar paling tinggi saja, dengan contoh di atas
Hartono, Ph.D
Prof. Sari Kusma
Contoh ke dua di tulis hanya gelar tertingginya, yaitu Prof. Reporter tidak perlu lagi menyebutkan gelar-gelar yang lain.
Itu dia, rangkuman singkat dari apa yang saya pelajari oleh Pak Asmari. Semoga bermanfaat yaa! 😁
Have a beautiful day
Di hari kedua, karena orang-orang liputan pada rame, ramah, sekaligus perhatian dan mengerti sekali akan kesibukan mahasiswa yang ga ada artinya ini. Mereka bilang, "datangnya ga usah pagi-pagi, jam 9-10 juga gapapa. Asal dahulukan perihal kuliah," Bu Susi said. Hehe
So, you know what apa yang kita lakukan pada hari ke dua ini? Yaa, bener banget, kita dateng telat hehe.
Pukul 10.00 WIB (Waktu Indonesia Bagiangue) pun akhirnya sampai di lantai 6. Padahal sebelumnya pada hari senin, kita datang lebih awal, pukul 09.00. Sesampainya di ruang redaksi, saya bertemu Pak Asmari, ia menanyakan sejauh mana tugas kita--bagian lipred belajar tentang berita radio. Saat itu hanya saya sendiri, teman-teman yang lain sudah duduk santai di studio. The power of kepepet adalah saat saya ingin pergi liputan pukul 10.30, pas banget Pak Asmari ngasih beberapa pelajaran penting ke gue. Setidaknya, ada empat point yang akan saya share ke kalian mengenai penulisan berita radio.
1. Menuliskan akronim, kalau biasanya pada media cetak maupun online untuk akronim (singkatan), yang tidak kita ketahui artinya bisa dijabarkan terlebih dahulu kepanjangannya lalu di berikan tanda kurung (...). Misal :
Pada media cetak dan online :
- ditulis, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Pada media radio :
- ditulis, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB
Karena radio diperuntukkan kepada pendengar, maka penulisan benar-benar harus ditulis agar si reporter tidak terkecoh saat membacakan berita. Tidak bisa ditulis seperti berita media cetak dan online. Hal yang sama juga dilakukan oleh media televisi, saya rasa mereka juga harus dituliskan seperti pada media radio. Nanti, bukannya bilang 'atau' malah 'bukakurung-tutupkurung'. Yang seperti ini rumit, pendengar akan merasa risih dan bisa-bisa ganti channel. Huuu, jangan sampe terjadi ya sist! 😉
2. Menuliskan angka, jika pada umumnya di media cetak dan online harus secara rinci menerangkan sesuatu. Maka, pada berita radio tidak perlu panjang dan bertele-tele untuk menuliskan angka. Bisa-bisa pendengar Anda bosan gan.
Contohnya :
Pada media cetak dan online ditulis :
- Rp. 74.650 bla bla
- Rp. 2.567.900 bla bla
- nilai 7, 56
Pada media radio ditulis :
- 74 ribu rupiah lebih. Cukup seperti itu,
- 2 juta lima ratus rupiah lebih, atau
- nilai 7 koma 5 atau 7 koma 5 lebih
3. Cukup sekali, tidak boleh ada kata yang diulang.
Cara ini dilakukan lagi-lagi agar si pendengar tidak bosan. Karena berita radio hanya selintas. Misal :
- Kalau ada penulisan nama brand, seperti AQUA di awal kalimat, maka di kalimat selanjutnya cukup mengganti nama benda dengan ' air mineral' , tidak perlu ditulis nama AQUA lagi.
4. Last but not least dari yang diajarkan Pak Asmari, penulisan gelar seseorang.
Penulisan nama tentunya ga boleh salah dong guys, tapi bagaimana dengan penulisan gelar seseorang, apalagi kalo narsumnya gila gelar hehe. Contoh :
- penulisan media cetak dan online :
Ditulis semuanya, secara rinci dari yang kecil hingga gelar paling tinggi.
Drs. Hartono, M.Si, M.Hum, Ph.D
Prof. Dr. Ir. Sari Kusma M. Kom
- berita radio hanya ditulis gelar paling tinggi saja, dengan contoh di atas
Hartono, Ph.D
Prof. Sari Kusma
Contoh ke dua di tulis hanya gelar tertingginya, yaitu Prof. Reporter tidak perlu lagi menyebutkan gelar-gelar yang lain.
Itu dia, rangkuman singkat dari apa yang saya pelajari oleh Pak Asmari. Semoga bermanfaat yaa! 😁
Have a beautiful day

Komentar
Posting Komentar