Magang: Introduction
"Kalau mau kaya, jangan jadi wartawan. Wartawan gak nyari duit, nyarinya berita hehe", celetuk Heriyoko, wartawan Radio Republik Indonesia.
Satu ruangan tertawa ketika Pak Heriyoko mengatakan hal tersebut. Mereka mengiyakan pendapat beliau. Benar juga sih, karena ada kejadian apa langsung keluar buat berita. Satu hari harus ada berita, harus ada topik yang diangkat untuk dijadikan berita. Makanan sehari-hari, yaa koranlah, buku, informasi warga, dan pastinya dari kejadian-kejadian baru di sekitar kita.
Mengapa saya memilih RRI sebagai tempat magang? Sejak semester 2, saat ada tugas meliput aksi Hari Kebangkitan Nasional di depan Monas, saya melihat kantor RRI di seberang jalan. Saya hanya berbisik dalam hati ketika itu, "nanti semester lima, gue mau magang disini". Tadaa, alhasil akhirnya masuk juga kesini. Dari awal cari magang, gue langsung niatin buat kesana dan ga mau ke media lain. Dengan sikap keras kepala yang sudah dianugrahi Tuhan, maka gue putuskan untuk tidak mencari kemana-mana selain ke RRI. Gue mulai cari-cari info mengenai saluran radio di media ini, ternyata ada online juga, kalian bisa klik websitenya di rri.co.id. check this out ya!
Dapet info dari kaka tingkat yang sebelumnya di RRI kalau di perusahaan ini, hanya bisa satu orang. Nyatanya, alhamdulillah 3 orang dari jurusan bisa masuk kesini. Ada Ica dan Haifa dari kelas PB A. Dan partner gue 'Neng Ganteng' si Anisa Ramadhania yang juga sekelas dari PB B.
Banyak hal yang kita pelajari di hari pertama magang. Alhamdulillah, dapet orang tua baru, temen baru, sekaligus pelajaran-pelajaran baru. "Selama hidup, selama itu juga kita belajar. Sampai mati! Kalau gak mau belajar, yaa mending mati aja", canda Pak Aris sebagai reporter RRI sektor Bogor.
Selain ilmu, nasihat-nasihat berfaedah juga kita dapetin disini buat kehidupan sehari-hari. Ada Ibu Soraya sebagai presenter di acara OMJ (Opini Mahasiswa Jakarta) atau yang biasa kupanggil Bunda Aya. Pada akhir siarannya, beliau selalu menyuarakan kata bijaknya, kurang lebih seperti ini bunyinya, "tingkatkan terus kepekaan sosial kalian". Bunda Aya ini supel, perhatiaan banget sama mahasiswa-mahasiswa magang --mungkin karna dia punya anak juga. Meski umurnya sudah masuk kepala 5, jiwanya masih muda! Hehe, celetuk-celetuknya selalu sukses membuat kita tertawa.
Tidak hanya itu, tokoh lain yang tak kalah sibuk mengurusi ini itu, dipegang oleh Pak Aden. Pak Aden, motivator baru dalam hidup saya. Karna ucapan beliau mendorong hati saya untuk mempelajari hal-hal baru. "Apa yang kalian tidak tahu, tanyakan!", perintahnya.
Saya senang dengan cara beliau menasihati, sesekali ia menyelipkan lelucon di setiap obrolan. Hal serupa juga dilakukan oleh Bunda Aya dan Mba Yuli.
Mereka bertiga termasuk pernah atau sedang menjalani profesi sebagai penyiar dan presenter. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka untuk menghibur pendengar.
Hari pertama, Pak Budi memerintahkan kami-- saya, Anisa, dan Dicky-- yang tergabung bagian liputan dan redaksi (lipred). Untuk permulaan, Pak Budi ingin tahu profil serta tujuan kami magang di RRI, karena itu beliau menyuruh kami menuliskannya di selembar kertas. Setelah itu barulah kami menuliskan 5 berita straight news dari berita media cetak maupun online. Berita dituliskan ulang dalam format berita radio.
Setelah selesai membuat berita, kami diperbolehkan pulang. Lalu hasilnya gimana sist?
Tunggu kelanjutannya di blog selanjutnya, nanti akan ada kesimpulan dari diskusi saya 😊.
See youu~
Satu ruangan tertawa ketika Pak Heriyoko mengatakan hal tersebut. Mereka mengiyakan pendapat beliau. Benar juga sih, karena ada kejadian apa langsung keluar buat berita. Satu hari harus ada berita, harus ada topik yang diangkat untuk dijadikan berita. Makanan sehari-hari, yaa koranlah, buku, informasi warga, dan pastinya dari kejadian-kejadian baru di sekitar kita.
Mengapa saya memilih RRI sebagai tempat magang? Sejak semester 2, saat ada tugas meliput aksi Hari Kebangkitan Nasional di depan Monas, saya melihat kantor RRI di seberang jalan. Saya hanya berbisik dalam hati ketika itu, "nanti semester lima, gue mau magang disini". Tadaa, alhasil akhirnya masuk juga kesini. Dari awal cari magang, gue langsung niatin buat kesana dan ga mau ke media lain. Dengan sikap keras kepala yang sudah dianugrahi Tuhan, maka gue putuskan untuk tidak mencari kemana-mana selain ke RRI. Gue mulai cari-cari info mengenai saluran radio di media ini, ternyata ada online juga, kalian bisa klik websitenya di rri.co.id. check this out ya!
Dapet info dari kaka tingkat yang sebelumnya di RRI kalau di perusahaan ini, hanya bisa satu orang. Nyatanya, alhamdulillah 3 orang dari jurusan bisa masuk kesini. Ada Ica dan Haifa dari kelas PB A. Dan partner gue 'Neng Ganteng' si Anisa Ramadhania yang juga sekelas dari PB B.
Banyak hal yang kita pelajari di hari pertama magang. Alhamdulillah, dapet orang tua baru, temen baru, sekaligus pelajaran-pelajaran baru. "Selama hidup, selama itu juga kita belajar. Sampai mati! Kalau gak mau belajar, yaa mending mati aja", canda Pak Aris sebagai reporter RRI sektor Bogor.
Selain ilmu, nasihat-nasihat berfaedah juga kita dapetin disini buat kehidupan sehari-hari. Ada Ibu Soraya sebagai presenter di acara OMJ (Opini Mahasiswa Jakarta) atau yang biasa kupanggil Bunda Aya. Pada akhir siarannya, beliau selalu menyuarakan kata bijaknya, kurang lebih seperti ini bunyinya, "tingkatkan terus kepekaan sosial kalian". Bunda Aya ini supel, perhatiaan banget sama mahasiswa-mahasiswa magang --mungkin karna dia punya anak juga. Meski umurnya sudah masuk kepala 5, jiwanya masih muda! Hehe, celetuk-celetuknya selalu sukses membuat kita tertawa.
Tidak hanya itu, tokoh lain yang tak kalah sibuk mengurusi ini itu, dipegang oleh Pak Aden. Pak Aden, motivator baru dalam hidup saya. Karna ucapan beliau mendorong hati saya untuk mempelajari hal-hal baru. "Apa yang kalian tidak tahu, tanyakan!", perintahnya.
Saya senang dengan cara beliau menasihati, sesekali ia menyelipkan lelucon di setiap obrolan. Hal serupa juga dilakukan oleh Bunda Aya dan Mba Yuli.
Mereka bertiga termasuk pernah atau sedang menjalani profesi sebagai penyiar dan presenter. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi mereka untuk menghibur pendengar.
Hari pertama, Pak Budi memerintahkan kami-- saya, Anisa, dan Dicky-- yang tergabung bagian liputan dan redaksi (lipred). Untuk permulaan, Pak Budi ingin tahu profil serta tujuan kami magang di RRI, karena itu beliau menyuruh kami menuliskannya di selembar kertas. Setelah itu barulah kami menuliskan 5 berita straight news dari berita media cetak maupun online. Berita dituliskan ulang dalam format berita radio.
Setelah selesai membuat berita, kami diperbolehkan pulang. Lalu hasilnya gimana sist?
Tunggu kelanjutannya di blog selanjutnya, nanti akan ada kesimpulan dari diskusi saya 😊.
See youu~

Komentar
Posting Komentar