Hidayah Lewat Mimpi
Setiap orang punya targetnya masing-masing. Saat berumur 19 , saya selalu memimpikan pencapaian
saat menapaki kepala dua. Mencoba hal-hal baru untuk dipelajari, menentukan pilihan dan
memutuskannya sendiri. Saya terus berusaha melakukan apapun yang saya bisa. Mengarungi
perjalanan waktu yang semakin cepat dan menjajali setiap pekerjaan merupakan kesenangan
tersendiri bagi saya. Sebelum menginjak umur 20, seorang lelaki memikat hati saya dan kami resmi
menjalin hubungan dua bulan sebelum ulang tahun saya yang ke 20. Kami mengakrabkan diri dengan
keluarga masing-masing dan menikmati kebersamaan berdua.
Saya mendapat pekerjaan sebagai seorang guru bimbel di dekat rumah, guru privat, dan memiliki
kesempatan bisnis di salah satu produk MLM (multi level marketing) dan menjadi seorang isidentil di
Taman Margasatwa Ragunan. Jadwal sehari-hari yang begitu padat hingga kadang tugas kuliah
menjadi prioritas nomor dua dan mengabaikan amanah di organisasi kampus. Bahkan tak jarang saya
mengacuhkan panggilan dari Tuhan untuk sembahyang. Saya sangat bersyukur bisa mendapat
kesempatan bekerja di beberapa tempat, mungkin ini jawaban atas doa-doa saya terdahulu. Namun,
saya merasa ada kejanggalan disini, saya merasa terlalu ambisius meraih apa yang saya mau, mengejar
apapun demi citra baik diri saya. Serakah, tapi saya terus menjalani semua pekerjaan tersebut, tanpa
istirahat yang cukup, tanpa belajar lagi, dan tanpa mempedulikan orang lain.
Hingga pada hari pembagian nilai semester 2 tiba, saya mendapati nilai saya turun drastis dan jumlah
absesnsi yang membengkak. 89 jam tanpa keterangan, “kemana saja saya selama ini? “, batinku.
Setelah kejadian itu, orang-orang terdekat saya mulai cemas, takut kalau-kalau saya dicutikan dari
kampus dan malah keasyikan bekerja. Teman, pasangan, terutama keluarga, setiap orang yang tahu
perihal saya sering bolos kuliah memberikan semangat dan mengingatkan saya untuk terus mengikuti
perkuliahan.
Tapi saya kembali egois, menganggap semua hal itu dapat teratasi dan bisa meng-handle semuanya.
Saya merasa mampu. Sekretariat jurusan saat itu menghubungi nomor telepon saya untuk memanggil
salah satu orang tua saya ke kampus. Saya tak kapok juga membolos, sampai Surat Peringatan ke-2
tiba di tangan Mama saya.
Dari kejadian itu, Ketua Jurusan lagi-lagi memperingatkan saya untuk memperhatikan jumlah absensi
yang terus bertambah. Saya menjadi kacau, pekerjaan juga tidak terpegang sama sekali dan banyak
orang yang kecewa terhadap kinerja saya. Karena terlalu padat dan terus menjajali ini itu, saya masih
belum puas juga dengan pencapaian dan kebutuhan hidup. Saya berhenti bekerja sebagai isidentil di
Taman Margasatwa Ragunan dan beralih profesi menjadi seorang SPG dari agency ternama di bilangan
Jakarta Timur.
Jadwal event-event tak menentu kadang dari pagi hingga malam tiba saya harus selalu stay di booth
tempat saya bekerja. Izin kesana kemari menjadi alasan yang saya tulis pada surat untuk kembali berbolos. Sembahyang dan al-qur’an sudah tidak lagi menemani hari-hari saya bermunajat dengan
Sang Pencipta.
Pada event Jakarta Fashion Week 2018 yang berlangsung di Senayan City, Jakarta Selatan, saya
kembali mengecewakan Ibu pemilik Bimbel tempat saya bekerja. Saya tak hanya gemar membolos di
kampus tapi juga banyak memberi alasan kepada orang-orang terdekat demi kepentingan sendiri.
Alhasil saya diberhentikan bekerja di Bimbel karena tidak pandai membagi waktu dengan pekerjaan
lain. Bisnis MLM yang saya geluti sejak awal juga terabaikan sehingga struktur jaringan yang terbentuk
berantakan. Tidak ada lagi keharmonisan yang terjalin antara up-line dengan down-line masing-
masing. Usaha memang kadang rugi dan kadang untung tetapi seharusnya kami saling dukung dan
memberikan nasihat-nasihat positif satu sama lain. Namun yang terjadi kami justru saling
meninggalkan dan tak acuh satu sama lain. Lalu, satu lagi bidang pekerjaan itu hilang tak berbekas.
Saya sering diperingatkan oleh Mama, untuk membagikan sedekah kepada orang-orang yang
membutuhkan bila mendapat rezeki atas apa yang telah dikerjakan. Karena ada hak orang lain pada
setiap rezeki yang kita peroleh. Namun lagi-lagi saya abaikan nasihat beliau. Saya benar-benar pada
puncak keegoisan dan keserakahan. Berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain, tanpa
berpikir panjang atas perbuatan yang saya lakukan yang nantinya akan berimbas pada diri sendiri.
Berada di atas segalanya dengan kepuasan yang terus menyelimuti. Saya lebih menganggap waktu
adalah uang dan tidak boleh disia-siakan padahal banyak waktu yang saya buang untuk pendidikan di
masa depan, untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Saya memang tidak menyia-nyiakan
waktu tapi saya melepas semua kesempatan itu demi nafsu sesaat. Yang saya tahu, semua hal yang
saya lakukan benar dan positif. Saya tidak ingin disalahkan apalagi dibanding-bandingkan, kritik dari
orang lain pun tak digubris dan saya balas dengan hal serupa.
Dari kejadian-kejadian di atas saya merasa bahwa saya telah mendapatkan segalanya di umur ke-20,
saat itu. Pasangan, pekerjaan, pendidikan formal yang mumpuni, dan lain-lain. Berada di atas
penderitaan orang-orang terdekat di rumah, tak saya hiraukan. Saya terus menjalani kehidupan saya,
tak mau tahu perihal kehidupan orang lain.
Kesenangan demi kesenangan tak henti-hentinya Tuhan berikan kepada saya. Bisa membeli berbagai
macam kebutuhan ini itu dengan uang saya sendiri, bepergian ke luar kota, menghabiskan uang
dengan mencicipi makanan, saya merasa baik-baik saja. Sembahyang sesekali saya kerjakan, tapi al-
qur’an benar-benar hilang dari pandangan. Saya lupa diri.
Hingga pada suatu ketika saya dan pasangan mengalami konflik yang menyebabkan kami mengakhiri
hubungan. Saya juga berhenti mengajar adiknya yang kala itu les privat dengan saya. Kami benar-
benar berhenti dan memutus tali silaturahmi. Tapi saya tak peduli, cuek terhadap permasalahan itu.
Teman-teman yang lain bantu support untuk menyemangati saya lagi. Padahal saya tahu, bahwa saya
salah saat itu. Saya sudah meminta maaf, tapi benar-benar tak kembali. Saya kembali egois.
Pada hari-hari menjelang umur 21 tahun, saya masih belum puas juga dengan pencapaian di atas.
Lantas saya berdoa kepada Allah SWT, kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi
kepuasan saya ini? Karena perjalanan hidup di umur 20 tahun ternyata hanya saya habiskan untuk
bersenang-senang, tidak lebih dari itu.
***
Tepat 1 hari sebelum menginjak umur 21 tahun, saya mendapat sebuah mimpi. Saya sangat ketakutan
dan berkeringat setelah diberikan petunjuk dari mimpi tersebut. Saya merasa kematian segera
menghampiri saya. Saya benar-benar takut malam itu. Saya memimpikan diri saya di ambang kematian, dan Allah mampu mencabut nyawa saya, kapanpun dan dimanapun Dia mau. Malam itu
juga, saya merasa bahwa Allah telah memberikan hidayahnya pada saya untuk berhijab. Karena
malam itu saya hanya berpikir tentang kematian.
Mengapa saya berpikir untuk berhijab setelah mimpi tentang kematian?
Seorang sahabat pernah memberitahu saya, saat duduk di bangku SMK dulu. “wanita muslim yang
tidak memakai kudung (hijab) sebelum ia meninggal nanti, jangankan masuk syurga. Mencium bau
syurga pun, ia tak pantas (tidak dibolehkan),” kira-kira seperti itu bunyinya. Dan itu terus terngiang di
telinga dan benak saya. Apakah ini saatnya saya berhijab?
***
Pagi harinnya saya iseng bertanya kepada Mama, “aku cantik gak yah, pakai kerudung?” ledekku.
Mama mungkin langsung menangkap sinyal itu, Ia mengiyakan dengan muka berbinar-binar dan suara
yang lantang. “Wah, cakep dong, anakku”, balasnya sambil tertawa lebar dan hendak menciumku. Ia
bahkan berjanji membelikanku kerudung dan baju-baju panjang untuk dipakai sehari-hari.
Hari itu, 17 Maret 2017 saya memutuskan untuk berhijab. Bermodal pashmina seadanya dengan niat
hati untuk istiqomah. Saya memulainya dengan membaca lafadz Bismillahi rahmanirrahiim. Gugup
dan rasa canggung menghampiri hati saya, siap tidak siap saya harus mengahadapi berbagai komentar
yang masuk. Saya telah memutuskan, maka sejak saat itu saya memantapkan diri untuk menerima
segala perubahan yang terjadi.
Banyak teman yang terkejut dan pangling melihat perubahan yang terjadi pada diri saya. Saya bahkan
malu menampakkan diri pada mata kuliah hari pertama saya berhijab. Tapi itu semua teratasi berkat
dorongan dan dukungan dari teman-teman yang menemani saya. Saya merasa dicintai dan bersyukur
atas hidayah yang Allah berikan.
***
Menyikapi persoalan demi persoalan, butuh waktu panjang bagi saya untuk memutuskan pilihan
berhijab. Saya menjadi paham, bahwa menjalin silaturahmi dengan orang lain itu sangat penting.
Bahwa amanat tidak boleh diabaikan dan omongan jangan hanya terucap. Dulu sekali, saya sering
menjanjikan hal ini itu kepada teman, orang tua, bahkan Tuhan saya sendiri, janji kepadaNya saya
ingkari. Saya merasa berdosa dan karma-karma itu datang bertubi-tubi. Sama halnya ketika saya
mengecewakan orang lain dengan perbuatan dan janji yang saya iming-imingkan, tak hentinya saya
melukai perasaan mereka. Krisis kepercayaan orang lain terhadap saya hancur lebur. Predikat diri saya
di mata mereka tak lagi sama seperti saat pertama bertemu. Saya menyesal, menyesal tiada akhir.
Saya banyak belajar dari kejadian-kejadian terdahulu, merenung, bercermin guna melakukan
intropeksi, mengumpat pada diri sendiri, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang
seharusnya tidak terjadi. “coba dulu saya seperti ini, mungkin tidak akan begini..” atau “untuk apa
saya begini, kalau hasilnya nol..” dan masih banyak lagi hal – hal yang saya sesali.
Jika dulu, saya menyesal karena telah menyia-nyiakan orang terdekat, saya justru menyesal karena
telah berpacaran. Melakukan maksiat setiap saat dan menghiraukan perintah Allah untuk sekadar
membaca al-qur’an walau hanya satu ayat sekalipun. Saya hilang arah dan tak tahu tujuan apa yang
hendak saya capai berikutnya. Saya kehilangan semangat dari dalam diri untuk beberapa bulan. Tapi
kemudian saya menyadari bahwa itu hanya sedikit pelajaran yang saya bisa ambil hikmahnya. Saya
tidak lagi bisa mengulang itu, tapi saya yakin Allah telah memberikan kesempatan baru sejak saat itu,
mulai berhijab.
Sekali lagi, saya sangat beruntung mendapat kesempatan hidup, dengan kisah yang baru.
saat menapaki kepala dua. Mencoba hal-hal baru untuk dipelajari, menentukan pilihan dan
memutuskannya sendiri. Saya terus berusaha melakukan apapun yang saya bisa. Mengarungi
perjalanan waktu yang semakin cepat dan menjajali setiap pekerjaan merupakan kesenangan
tersendiri bagi saya. Sebelum menginjak umur 20, seorang lelaki memikat hati saya dan kami resmi
menjalin hubungan dua bulan sebelum ulang tahun saya yang ke 20. Kami mengakrabkan diri dengan
keluarga masing-masing dan menikmati kebersamaan berdua.
Saya mendapat pekerjaan sebagai seorang guru bimbel di dekat rumah, guru privat, dan memiliki
kesempatan bisnis di salah satu produk MLM (multi level marketing) dan menjadi seorang isidentil di
Taman Margasatwa Ragunan. Jadwal sehari-hari yang begitu padat hingga kadang tugas kuliah
menjadi prioritas nomor dua dan mengabaikan amanah di organisasi kampus. Bahkan tak jarang saya
mengacuhkan panggilan dari Tuhan untuk sembahyang. Saya sangat bersyukur bisa mendapat
kesempatan bekerja di beberapa tempat, mungkin ini jawaban atas doa-doa saya terdahulu. Namun,
saya merasa ada kejanggalan disini, saya merasa terlalu ambisius meraih apa yang saya mau, mengejar
apapun demi citra baik diri saya. Serakah, tapi saya terus menjalani semua pekerjaan tersebut, tanpa
istirahat yang cukup, tanpa belajar lagi, dan tanpa mempedulikan orang lain.
Hingga pada hari pembagian nilai semester 2 tiba, saya mendapati nilai saya turun drastis dan jumlah
absesnsi yang membengkak. 89 jam tanpa keterangan, “kemana saja saya selama ini? “, batinku.
Setelah kejadian itu, orang-orang terdekat saya mulai cemas, takut kalau-kalau saya dicutikan dari
kampus dan malah keasyikan bekerja. Teman, pasangan, terutama keluarga, setiap orang yang tahu
perihal saya sering bolos kuliah memberikan semangat dan mengingatkan saya untuk terus mengikuti
perkuliahan.
Tapi saya kembali egois, menganggap semua hal itu dapat teratasi dan bisa meng-handle semuanya.
Saya merasa mampu. Sekretariat jurusan saat itu menghubungi nomor telepon saya untuk memanggil
salah satu orang tua saya ke kampus. Saya tak kapok juga membolos, sampai Surat Peringatan ke-2
tiba di tangan Mama saya.
Dari kejadian itu, Ketua Jurusan lagi-lagi memperingatkan saya untuk memperhatikan jumlah absensi
yang terus bertambah. Saya menjadi kacau, pekerjaan juga tidak terpegang sama sekali dan banyak
orang yang kecewa terhadap kinerja saya. Karena terlalu padat dan terus menjajali ini itu, saya masih
belum puas juga dengan pencapaian dan kebutuhan hidup. Saya berhenti bekerja sebagai isidentil di
Taman Margasatwa Ragunan dan beralih profesi menjadi seorang SPG dari agency ternama di bilangan
Jakarta Timur.
Jadwal event-event tak menentu kadang dari pagi hingga malam tiba saya harus selalu stay di booth
tempat saya bekerja. Izin kesana kemari menjadi alasan yang saya tulis pada surat untuk kembali berbolos. Sembahyang dan al-qur’an sudah tidak lagi menemani hari-hari saya bermunajat dengan
Sang Pencipta.
Pada event Jakarta Fashion Week 2018 yang berlangsung di Senayan City, Jakarta Selatan, saya
kembali mengecewakan Ibu pemilik Bimbel tempat saya bekerja. Saya tak hanya gemar membolos di
kampus tapi juga banyak memberi alasan kepada orang-orang terdekat demi kepentingan sendiri.
Alhasil saya diberhentikan bekerja di Bimbel karena tidak pandai membagi waktu dengan pekerjaan
lain. Bisnis MLM yang saya geluti sejak awal juga terabaikan sehingga struktur jaringan yang terbentuk
berantakan. Tidak ada lagi keharmonisan yang terjalin antara up-line dengan down-line masing-
masing. Usaha memang kadang rugi dan kadang untung tetapi seharusnya kami saling dukung dan
memberikan nasihat-nasihat positif satu sama lain. Namun yang terjadi kami justru saling
meninggalkan dan tak acuh satu sama lain. Lalu, satu lagi bidang pekerjaan itu hilang tak berbekas.
Saya sering diperingatkan oleh Mama, untuk membagikan sedekah kepada orang-orang yang
membutuhkan bila mendapat rezeki atas apa yang telah dikerjakan. Karena ada hak orang lain pada
setiap rezeki yang kita peroleh. Namun lagi-lagi saya abaikan nasihat beliau. Saya benar-benar pada
puncak keegoisan dan keserakahan. Berbuat sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain, tanpa
berpikir panjang atas perbuatan yang saya lakukan yang nantinya akan berimbas pada diri sendiri.
Berada di atas segalanya dengan kepuasan yang terus menyelimuti. Saya lebih menganggap waktu
adalah uang dan tidak boleh disia-siakan padahal banyak waktu yang saya buang untuk pendidikan di
masa depan, untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain. Saya memang tidak menyia-nyiakan
waktu tapi saya melepas semua kesempatan itu demi nafsu sesaat. Yang saya tahu, semua hal yang
saya lakukan benar dan positif. Saya tidak ingin disalahkan apalagi dibanding-bandingkan, kritik dari
orang lain pun tak digubris dan saya balas dengan hal serupa.
Dari kejadian-kejadian di atas saya merasa bahwa saya telah mendapatkan segalanya di umur ke-20,
saat itu. Pasangan, pekerjaan, pendidikan formal yang mumpuni, dan lain-lain. Berada di atas
penderitaan orang-orang terdekat di rumah, tak saya hiraukan. Saya terus menjalani kehidupan saya,
tak mau tahu perihal kehidupan orang lain.
Kesenangan demi kesenangan tak henti-hentinya Tuhan berikan kepada saya. Bisa membeli berbagai
macam kebutuhan ini itu dengan uang saya sendiri, bepergian ke luar kota, menghabiskan uang
dengan mencicipi makanan, saya merasa baik-baik saja. Sembahyang sesekali saya kerjakan, tapi al-
qur’an benar-benar hilang dari pandangan. Saya lupa diri.
Hingga pada suatu ketika saya dan pasangan mengalami konflik yang menyebabkan kami mengakhiri
hubungan. Saya juga berhenti mengajar adiknya yang kala itu les privat dengan saya. Kami benar-
benar berhenti dan memutus tali silaturahmi. Tapi saya tak peduli, cuek terhadap permasalahan itu.
Teman-teman yang lain bantu support untuk menyemangati saya lagi. Padahal saya tahu, bahwa saya
salah saat itu. Saya sudah meminta maaf, tapi benar-benar tak kembali. Saya kembali egois.
Pada hari-hari menjelang umur 21 tahun, saya masih belum puas juga dengan pencapaian di atas.
Lantas saya berdoa kepada Allah SWT, kira-kira apa yang harus saya lakukan untuk memenuhi
kepuasan saya ini? Karena perjalanan hidup di umur 20 tahun ternyata hanya saya habiskan untuk
bersenang-senang, tidak lebih dari itu.
***
Tepat 1 hari sebelum menginjak umur 21 tahun, saya mendapat sebuah mimpi. Saya sangat ketakutan
dan berkeringat setelah diberikan petunjuk dari mimpi tersebut. Saya merasa kematian segera
menghampiri saya. Saya benar-benar takut malam itu. Saya memimpikan diri saya di ambang kematian, dan Allah mampu mencabut nyawa saya, kapanpun dan dimanapun Dia mau. Malam itu
juga, saya merasa bahwa Allah telah memberikan hidayahnya pada saya untuk berhijab. Karena
malam itu saya hanya berpikir tentang kematian.
Mengapa saya berpikir untuk berhijab setelah mimpi tentang kematian?
Seorang sahabat pernah memberitahu saya, saat duduk di bangku SMK dulu. “wanita muslim yang
tidak memakai kudung (hijab) sebelum ia meninggal nanti, jangankan masuk syurga. Mencium bau
syurga pun, ia tak pantas (tidak dibolehkan),” kira-kira seperti itu bunyinya. Dan itu terus terngiang di
telinga dan benak saya. Apakah ini saatnya saya berhijab?
***
Pagi harinnya saya iseng bertanya kepada Mama, “aku cantik gak yah, pakai kerudung?” ledekku.
Mama mungkin langsung menangkap sinyal itu, Ia mengiyakan dengan muka berbinar-binar dan suara
yang lantang. “Wah, cakep dong, anakku”, balasnya sambil tertawa lebar dan hendak menciumku. Ia
bahkan berjanji membelikanku kerudung dan baju-baju panjang untuk dipakai sehari-hari.
Hari itu, 17 Maret 2017 saya memutuskan untuk berhijab. Bermodal pashmina seadanya dengan niat
hati untuk istiqomah. Saya memulainya dengan membaca lafadz Bismillahi rahmanirrahiim. Gugup
dan rasa canggung menghampiri hati saya, siap tidak siap saya harus mengahadapi berbagai komentar
yang masuk. Saya telah memutuskan, maka sejak saat itu saya memantapkan diri untuk menerima
segala perubahan yang terjadi.
Banyak teman yang terkejut dan pangling melihat perubahan yang terjadi pada diri saya. Saya bahkan
malu menampakkan diri pada mata kuliah hari pertama saya berhijab. Tapi itu semua teratasi berkat
dorongan dan dukungan dari teman-teman yang menemani saya. Saya merasa dicintai dan bersyukur
atas hidayah yang Allah berikan.
***
Menyikapi persoalan demi persoalan, butuh waktu panjang bagi saya untuk memutuskan pilihan
berhijab. Saya menjadi paham, bahwa menjalin silaturahmi dengan orang lain itu sangat penting.
Bahwa amanat tidak boleh diabaikan dan omongan jangan hanya terucap. Dulu sekali, saya sering
menjanjikan hal ini itu kepada teman, orang tua, bahkan Tuhan saya sendiri, janji kepadaNya saya
ingkari. Saya merasa berdosa dan karma-karma itu datang bertubi-tubi. Sama halnya ketika saya
mengecewakan orang lain dengan perbuatan dan janji yang saya iming-imingkan, tak hentinya saya
melukai perasaan mereka. Krisis kepercayaan orang lain terhadap saya hancur lebur. Predikat diri saya
di mata mereka tak lagi sama seperti saat pertama bertemu. Saya menyesal, menyesal tiada akhir.
Saya banyak belajar dari kejadian-kejadian terdahulu, merenung, bercermin guna melakukan
intropeksi, mengumpat pada diri sendiri, membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang
seharusnya tidak terjadi. “coba dulu saya seperti ini, mungkin tidak akan begini..” atau “untuk apa
saya begini, kalau hasilnya nol..” dan masih banyak lagi hal – hal yang saya sesali.
Jika dulu, saya menyesal karena telah menyia-nyiakan orang terdekat, saya justru menyesal karena
telah berpacaran. Melakukan maksiat setiap saat dan menghiraukan perintah Allah untuk sekadar
membaca al-qur’an walau hanya satu ayat sekalipun. Saya hilang arah dan tak tahu tujuan apa yang
hendak saya capai berikutnya. Saya kehilangan semangat dari dalam diri untuk beberapa bulan. Tapi
kemudian saya menyadari bahwa itu hanya sedikit pelajaran yang saya bisa ambil hikmahnya. Saya
tidak lagi bisa mengulang itu, tapi saya yakin Allah telah memberikan kesempatan baru sejak saat itu,
mulai berhijab.
Sekali lagi, saya sangat beruntung mendapat kesempatan hidup, dengan kisah yang baru.

Komentar
Posting Komentar