Toleransi ?


Siang hari menjelang sore, hujan rintik-rintik kembali jatuh ke permukaan jalan di Beji, Depok. Saat itu saya dengan kedua teman sedang duduk-duduk di teras masjid untuk berteduh. Kami membentuk lingkaran kecil untuk saling berdiskusi, salah satu teman mengajukan sebuah pertanyaan, “Apa hal yang  membuat kalian bahagia?”. Saya masih terdiam ketika Ia mengajukan pertanyaan itu, saya bingung sendiri karena sebenarnya banyak hal yang dapat membuat kita bahagia, mulai dari keluarga, teman, hobi, kebiasaan, dan lain-lain. Lalu teman saya yang satunya menjawab cepat, “gue bahagia kalo bisa makan es krim cokelat tiap hari, hehe” begitu candanya. Kita bertiga langsung tertawa dibuatnya, mana ada orang zaman sekarang cuma makan es krim aja bahagia? Mustahil. Hehehe.

Penanya kemudian menjawab, “bagi gue, bertoleransi sama orang lain merupakan salah satu cara buat gue bahagia.”

Kita bertiga diam sejenak, mikir keras, kenapa dia menjawab hal seperti itu. Toleransi? Kenapa harus toleransi yang buat dia bahagia? Kenapa gak mikir untuk jadi kaya? Punya rumah mewah atau dapet pacar cakep gitu?  

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya sering sekali mendapat soal di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tentang toleransi. Mungkin ini efek karena tidak pernah mendengarkan guru saat menjelaskan pelajaran. Alhasil yaa seperti ini, gak mudeng sampe tua. Hanya kenal dengan nama “toleransi” tapi gak bisa memaknainya secara harfiah dan kurangnya implementasi.

Toleransi merupakan sikap  dari diri seseorang yang ditujukan untuk menghargai pendapat, keputusan, tingkah laku serta pikiran orang lain. Berikut ini pengertian toleransi :

Pengertian Toleransi - Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Secara etimologis istilah “tolerantia” dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada Revolusi Perancis. Hal itu terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti Revolusi Perancis.

 

Dalam bahasa Inggris “tolerance” yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Sedangkan dalam bahasa Arab istilah ini merujuk kepada kata “tasamuh” yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan.

 

Seperti yang telah kita ketahui, menghargai pendapat orang lain termasuk bentuk toleransi yang kita lakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, toleransi atau tenggang rasa sering dicontohkan sebagai sikap saling menghargai antar agama. Banyak contoh-contoh dalam buku pelajaran sekolah dasar misalnya, dalam buku itu pengertian toleransi sering digambarkan penganut agama Islam menghargai penganut agama Kristen dan begitu pula sebaliknya. Misal, saat anak-anak kecil yang beragama Islam sedang senang-senangnya menyenandungkan sholawat dengan volume yang besar menggunakan microfon masjid, belum lagi ditambah suaranya yang  cempreng-cempreng. Sementara itu, penganut agama non Islam mungkin ada yang merasa terganggu mendengar kebisingan tersebut, tetapi mereka diam saja. Tanda mereka diam sebenarnya relatif, bisa karena menghargai atau malah jengkel dalam hati hehe wallahu’alam. Tetapi tak mereka tunjukkan.

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, sedangkan penduduk yang lain menganut kepercayaan mereka masing-masing. Indonesia sendiri mempunyai lima agama yang diakui, diantaranya Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.

Akhir-akhir ini Indonesia sedang ribut masalah agama, karena salah satu tokoh terpandang di Ibukota melecehkan surat yang terkandung dalam al-quran. Tokoh terpandang ini non Islam. Sejak saat itu Ia di protes sana-sini oleh pemuka-pemuka agama Islam, ustadz, ustadzah, guru ngaji, anak pesantren, kiai, bahkan orang-orang awam pun ikut serta memprotes pernyataan yang Ia lecehkan.

Dari sekian banyak pengaduan yang dikeluhkan,maka masyarakat muslim mengusulkan untuk membawa tokoh ini ke ranah hukum. Mereka membuat sejarah, mengerahkan kelompok-kelompok, ormas-ormas, bahkan mahasiswa pun ikut serta ke jalanan untuk melakukan Aksi Bela Islam pada Jumat, 4 November 2016 atau disingkat dengan 411.

Orang-orang yang hadir memadati jalanan Ibukota dari Masjid Istiqlal hingga ke areal Monas. Aksi bela islam tidak hanya berlangsung hari itu saja, ternyata mereka membuat aksi-aksi jilid berikutnya demi memenjarakan tokoh ini. Mereka menuntut keadilan untuk dapat menjatuhkan tokoh ini. Saya sedih melihat pemandangan ini, namun juga kesal saat mengingat kembali perkataan yang dilontarkan oleh tokoh ini. Menuntut keadilan untuk menjatuhkan musuh. Musuh memang perlu diperangi selagi musuh itu tetap mengajak perang dan tidak ingin berdamai. Tapi tokoh yang saya ceritakan ini sudah meminta maaf berkali-kali, bahkan ia menampakkan wajah bersalah dan permohonan maaf di muka publik di siaran televisi. Buat apa terus menyalahkan?

Baru-baru ini aksi bela islam – entah jilid ke berapa saya sudah enggan menghitungnya, aksi 505 atau tepatnya pada tanggal 5 Mei 2017 kembali dilakukan sejumlah tokoh-tokoh agama. Padahal tokoh yang sempat melecehkan al quran ini sudah dinyatakan kalah dalam PILKADA putaran kedua – 19 April 2017. Namun aksi ini tetap digelar, ternyata masyarakat muslim tak puas juga, mereka ingin tetap memenjarakan pelaku. Ah,  Mengapa nafsu mereka tak kunjung usai? Ini yang dibilang aksi bela Islam? atau aksi balas dendam?

Saya tidak hafal pasal-pasal, saya juga bukan mahasiswa jurusan hukum yang mengerti dasar hukum di Indonesia, dibilang aktivis kampus pun saya tak mau. Saya hanya seorang pengamat yang senang menuliskan hasil pengamatan.

Sebenarnya apa kaitan semua contoh yang saya tuliskan dengan sikap toleransi?

Pelaku bersalah dan sudah minta maaf, kenapa masih bersikukuh dihukum? Apa hanya karena perkataannya? Wah saya jadi takut sama orang Indonesia sekarang, salah omong sedikit kena hukum. 2 tahun penjara pula. Seram. Dimana makna toleransi yang guru-guru ajarkan sewaktu SD? Toleransi memang bukan ajang maaf-maafan terus dimaafkan lalu kelar, toleransi berarti tetap teguh pada prinsip sendiri tanpa menjatuhkan prinsip orang lain. Bukan berarti tidak setuju, hanya saja mereka menghargai prinsip lawannya. Bukan juga berarti setuju, karena pada kenyataannya mereka tetap pada pendirian sendiri. Seperti yang ditulis dalam akun official line Hidden Secret,

“Lantas apakah arti toleransi yang sebenarnya? –  

Anda bisa meneladani sikap Guru Besar UI, Thamrin Amagola yang memaafkan Munarman setelah menyiram air minum saat sedang berdiskusi secara live di TV One. Anda juga bisa meneladani sikap ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin yang memaafkan Ahok karena pernyataannya yang menyudutkan.

Anda juga bisa meneladani sikap Buya Hamka yang memaafkan Soekarno karena telah memenjarakan dirinya, Anda juga bisa meneladani sikap D.N Aidit yang tetap berhubungan baik dengan Ketua Masyumi meskipun mereka berbeda ideologi. Karena sejatinya toleransi tak melulu soal agama”.

 

Kalian mungkin bertanya-tanya – yah mungkin juga tidak, mengapa kawan saya bahagia bila kita bisa saling toleransi? Karena temannya saya ini merupakan kaum minnoritas di negara yang mayoritas Islam. Di dalam kelas saja hanya dia yang beragama Protestan. Bukan berarti ingin membelanya atau mendukung dia dengan pilihan agamanya, saya hanya ingin kita hidup rukun dan damai. Tidak salaing mengucilkan juga menjatuhkan. Karena mereka – kaum minoritas juga ingin dihargai. Saya hanya tertampar begitu ada orang yang mengatakan bahwa, “Bagaimana jika kita sendiri hidup di negara dengan mayoritas Katolik atau Hindu misalnya? Lalu kita sendiri yang menjadi kaum minoritas dalam negara mayoritas agama  tertentu?” ujar si gadis.

Tentunya kalian tidak ingin diperlakukan berbeda bukan? Maka, tanamkanlah sikap toleransi dalam jiwa kalian, InshaAllah berbuah baik nantinya.

Komentar

Postingan Populer