Hukuman atas Diri Sendiri
“Kadang, kita butuh seseorang untuk
menghukum diri sendiri,” - Moh. Fauzy.
Perkataan tersebut dilontarkan oleh salah
satu dosen psikologi di kampus, hal ini membuat gue berpikir dan merenungi
beberapa hal yang pernah atau sudah terjadi dalam hidup gue.
Gue akan ambil contoh dari pengalaman
pribadi. Saat itu tante gue curhat dan dia sangat membutuhkan uang untuk
membeli paket data internet. Dia minta pertolongan gue dengan nada memohon dan
tampang semrawut. Perasaannya saat itu sedang kacau. Dia bilang, “ Ria, ada
duit ga? Beliin gue paket data dong, gue gak punya uang sepersen pun”.
Berkali-kali dia memohon terus sama gue, tapi gue gak nanggepin, gue malah
sibuk dengan smartphone kesayangan. Hanya menjawab sekenanya, asal, bahkan
terlihat masa bodoh. Gue punya uang saat itu, dan gue tahu dia juga punya uang,
karena dia sudah berhasil meminjam uang ke tetangga untuk biaya ongkos kerja.
Mungkin, uang itu hanya cukup untuk biaya transportnya, tapi akhirnya gue hanya
menggubris perkataannya dengan tidak membawa harapan. Karena paket internet gue
aja masih terbilang biasa-biasa saja. Masa beliin paket internet orang lain,
paket internet sendiri malah ga beli baru. Gue tau sebenarnya masih tersisa
banyak waktu untuk menghabiskan paket internet, tapi lagi-lagi dengan entengnya
gue bilang bahwa, gue gak punya uang. Sumpaahhh, gue ngerasa peliitt banget
saat itu, peliiitt baaangeeettt. Parah deh pokoknya. Sampai saat ini pun dia
masih pakai nomor baru yang dibeli sepupu, as you know sepupu dan tante gue ini
anak yatim. Yaa ampuunn, berdosaa banget gak sih gue? Sedangkan gue, ortu masih
lengkap, uang buat cadangan 2 minggu ke depan juga sebenarnya masih ada, tapi
saat itu gue ambil keputusan yang tidak menguntungkan bagi orang lain, tidak
berfaedah sama sekalii lah pokoknya. Tidak membawa harapan pula kepada orang
lain—yang sebenarnya membutuhkan.
Akhirnya, seminggu setelah kejadian
curhat-curhat-an dengan berujung kecewa yang didapat oleh tante gue. Hape gue
mendadak error. Sinyal yang ada di kartu gue seharian silang dan gak berfungsi.
Ngadet lagi. Pas dinyalain sambungan data nya, masih error juga, no respon.
Muncul beberapa kali peringatan dari layar hape gue. Berulang kali gue coba
menonaktifkan hape gue. Ga bisa juga. Gue coba restart lagi berkali-kali dan
hasilnya pun tetap sama. Nihil, gak bisa-bisa. Akhirnya gue pergi ke RPTRA
Ciganjur untuk minta wi-fi nya, aaanndd finally it works! Banyak pesan yang
masuk dan gue mulai berkutat lagi dengan medsos.
Hingga gue menyadari *tsaahhh, bahwa
dengan cara seperti ini lah Tuhan menghukum kita. Gue yang awalnya ragu, bahkan
enggan untuk memberi dia bantuan berupa uang, eh malah gue juga yang akhirnya
kesusahan cari-cari paket data internet buat komunikasi. Rela-relain ke taman
baca anak demi wi-fi gratis doang. Perjuangaannya, nauzubilleh. Padahal
sebelumnya gue udah beli pulsa 5000rb cuma untuk antisipasi aja, takut di jalan
ada yang ngehubungin atau apa lah. Tapi nyatanya, kartu manapun yang dimasukkan
ke sim card hape gue, terbukti ga bisa berfungsi, kartu manapuunn. Ammpunn deh,
karma ini mah bukan cobaan lagii. Yowais, akhirnya gue beralih ke hape adik
bungsu gue – Lala, untuk berkomunikasi lewat media sosial.
Dari kejadian di atas gue bisa
menyimpulkan, bahwa Tuhan menghukum manusia tidak hanya lewat bencana alam atau
suatu musibah, tapi bisa juga lewat perantara orang lain dari kesalahan
individu itu sendiri. Tuhan ingin kita peka, terhadap siapapun. Tuhan mengajari
kita melalui keputusan yang kita buat, mendapat sebuah tantangan atau ujian,
lalu belajar bagaimana mengatasi serta berfikir panjang terhadap dampaknya.
Satu hal yang gue pelajari dari kejadian ini, gue menjadi paham, bahwa ada hak
orang lain juga terhadap rezeki yang kita miliki. Tapi, kadang kita justru
tidak memberikan hak itu karena alasan bahwa, “Gue yang kerja, gue yang dapet
uang dan gue pula yang harus nikmatin hasilnya, bukan orang lain”. Nah pikirin
kaya gitu seharusnya di buang jauh-jauuuhh. Karna suatu saat nanti kita pasti
butuh bantuan orang lain dan Ingeett! Karma berlaku seumur hidup guys.
Kira-kira seperti itu, menurut pandangan
gue. Jadi, jangan ragu jika hendak membantu orang lain. Tolonglah siapapun yang
ada bersama kalian, yang melibatkan hidup kalian. Walaupun, kalian tahu orang
yang kalian bantu lebih mampu dari hidup kalian. Kita seharusnya tahu, bahwa
kedudukan dan kondisi orang bisa berbeda-beda setiap saat. Teruslah berbuat
baik. Menjadi orang baik sebenarnya mudah, apalagi kalau dibarengi dengan niat
hati yang ikhlas, sehingga tak berbalas pamrih. Oleh karena itu, hendaknya
yakinkan dulu hati kalian untuk membantu orang dengan hati yang ikhlas dan
lapang, agar Tuhan senantiasa melindungi dan memberikan berkah pada rezeki
kalian. Aamiin.

Komentar
Posting Komentar