Pergi bersama Senja


Gemuruh langit menyapa lembut rambutku di penghujung senja. Memainkan anak rambut yang terkena hembusan angin. Begitu juga dengan bajuku. Aku terdiam di tengah tumbuhan alang-alang. Tinggi, menutupi tubuh. Sendirian. Menyambut kegelapan malam. Dari arah berlawanan nampak seseorang yang ku kenal postur tubuhnya. Cara dia berjalan. Menatapku penuh hangat dengan mata kecapaian. Memanggil namaku pelan, dari kejauhan. Aku terhenyak. Membalas tatapan matanya dengan senyum segaris di bibirku. Tenaang sekali. Dia mengajakku pergi bersama. Dengan langkah yang mantap aku menghampiri dirinya. Jarak kita sekarang hanya 5 meter. Kami saling berhadapan. Berbalas senyum dan tertawa ringan sesekali. 

Tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Dia mendekatiku perlahan, mengambil tangan kecilku yang ada di samping celana. Aku tatap matanya sekali lagi. Dia balas menatapku. Kali ini dengan tatapan yang berbeda. Tidak seteduh tatapannya yang pertama. Dia genggam tanganku erat. Mata nya berkaca-kaca. Seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak mampu. Aku menatapnya heran. Aku hendak bertanya kepadanya, “Ada apa?”. Sebelum akhirnya, Ia mendekatkan bibir ke telinga ku. Berbisik halus. Mengatakan dua kata yang menyakitkan bagiku. “Aku pergi”.  Aku mengernyitkan dahi tampak bingung. Tapi kemudian, Ia mengecup dahiku lembut. Hangat, menenangkan. Namun aku hanya diam, membisu. Menatap kosong pandangan ke depan. Padahal alang-alang sedang menari karena angin. Aku tidak mengerti maksud perkataannya. Pikiranku bertanya-tanya, apa yang sedang atau akan terjadi?

Aku mengalihkan pandangan ke matanya. Ia menundukkan kepala tak bersemangat. Ku pegang dagunya, ku angkat wajah lesu itu. Ku lihat matanya berair. Mukanya memerah. Ku pikir Ia akan marah. Ternyata tidak. Air dari kelopak mata terus jatuh membasahi pipinya. Kini matanya terpejam. Menyesakkan. Ia menarik nafas dalam-dalam. Menegakkan posisi tubuhnya. Merasakkan udara bersih memasuki rongga hidungnya. Ku pegang pundak kanannya, Ia membuka mata perlahan. Kali ini aku tidak akan sungkan-sungkan bertanya. Meski bibir terasa kelu. Meski hati berontak tak perlu bilang, cukup diam saja. “Apa maksudmu, pergi? Pergi kemana?”. Ia hanya menggelengkan kepala, memaksakan senyum tipis itu. Bukan, bukan itu jawaban yang kuinginkan. Aku butuh penjelasan. Aku ingin kita baik-baik saja. Kumohon, katakanlah walau sepatah kata saja. Ia melepaskan genggamannya dari tanganku. Berbalik ke arah senja yang akan pulang, meninggalkan hari ini. Juga aku. Aku bertambah bingung. 

Tanpa sadar, air mata membasahi pelupuk mataku. Mulutku ternganga, tak mengerti. Memandangi punggungnya yang sudah berjalan ke depan. Aku berseru memanggilnya. ”Tunggu!”. Ia menghentikkan langkahnya mendengar ucapanku barusan. “Beritahu aku, kapan kau kembali?”. Ia masih di posisi yang sama. Belum menjawab. Kita terdiam beberapa detik. Ia menoleh ke belakang menatap sayu melihat wajahku. “Jangan tunggu aku”, katanya lirih. Kemudian membalikkan pandangannya menuju senja. Membelakangi aku. “Aku tak akan kembali”. Sontak, aku kaget dibuatnya. Mendengar perkataannya barusan. Mungkin akan jadi yang terakhir dan tak akan pernah kudengar lagi, kata-kata dari bibirnya. 

Ia terus melangkah, pergi bersama senja hari itu, besok, dan seterusnya. Senja mungkin akan datang lagi besok. Tapi tidak dengannya.

 Perlahan dan pasti, Ia menghilang dari pandanganku. Meninggalkan perasaan curiga yang belum tuntas. Khawatir yang mendalam. Membuat lubang besar di hatiku yang akan sulit ditambal dengan cerita baru. Membekas, menyisakan sepenggal kisah kita, setelah sekian bulan merajut kasih. Sedang aku, hanya terduduk lemas melihat Dia pergi. Kedua jemari ku sibuk meremas rumput liar di tanah lapang. Tangisku semakin menjadi, kutundukkan kepala, memohon agar Ia kembali. Aku butuh dia.

Komentar

Postingan Populer